KEMARAU PANJANG, KEKERINGAN….

kekeringanHallo kawan…, karena udara sangat panas saya mencoba ngadem di bawah pohon waru di pinggir kali. Siang hari seperti ini biasanya sungai sepi, warga desa enggan beraktifitas di sungai karena panasnya. Tapi siang ini berbeda dengan biasanya, nampak ibu ibu ramai silih berganti berdatangan ke sungai, ada yang membawa ember, ada yang membawa jerigen, dan sebagian lagi membawa bakul berisi cucian kotor. Mereka hendak mengambil air bersih dan mencuci di sumur sumur kecil yang digali oleh warga sebagai sumber air bersih di kampungnya.  Bagi sebagian warga yang berduit mereka akan mengebor sumur di rumahnya untuk mencari sumber air di kedalaman tertentu hingga bertemu dengan sumber air untuk menambah debit air sumur miliknya sehingga tak perlu istri dan anaknya mandi dan mencuci di pinggir kali. Bagi yang uangnya terbatas maka mereka harus rela berpanas panas di sungai dan menahan beratnya ember berisi air untuk menyediakan stok air di rumahnya.

Dahulu, waktu saya kecil, suasana kemarau seperti ini mrupakan berkah bagi kami. Ibu memberi kelonggaran bagi saya untuk berlama lama mandi dan bermain di sungai.  Lumayan untuk ngirit air di rumah.  Biasanya sepulang sekolah sebelum mandi sore kami bermain sesemahan (keluarga keluargaan) bersama dengan gadis kecil teman bermainku. Atau bermain bola plastik di sawah kering di dekat sungai sambil angon  kambing dan ayam! Ayam diangon??? Ya karena saya dianggap tidak becus ngurus kambing, maka permintaan saya untuk dibelikan kambing ditolak mentah mentah oleh bapak saya. Jadi ketika teman teman menggiring kambing  untuk diangon,saya nenteng ayam jago untuk diangon mencari butir padi sisa sisa panenan yang lalu. Setelah letih bermain bola kami ramai ramai nyebur di leuwi (waduk kecil), sampai badan kami segar kembali. Dulu airnya masih melimpah dan bersih, jadi setelah berenang di leuwi, kami langsung mengeringkan badan pakai anduk sarung dan pulang. Tidak perlu dibilas pake air sumur lagi, kalau kulit busik bersisik, itumah biasaa…. tidak jadi masalah, malahan kulit badan yang bersisik bisa dicoret coret sambil belajar menulis dan membaca, jadi ngirit kan? ga perlu beli papan tulis dan kapur.

Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, anak anak sudah tidak mau lagi bermain di sungai, sebab setelah letih bermain tidak bisa langsung nyebur ke leuwi seperti yang dahulu kami lakukan.  Jangankan ada leuwi, batang sungai saja hampir kering tinggal sebesar betis. Kalau dari kejauhan sungainya mirip cacing kurus yang berkelok kelok menggeliat kepanasan. Jadi tidak ada daya tariknya untuk anak anak bermain di sungai. Belum lagi bagi sebagian warga yang belum memiliki kakus di rumah, sembarangan saja buang airnya di sungai yang sudah kecil, jadi menambah jorok keadaan sungai, Jangankan mandi di sungai, untuk menginjak air sungaipun kita tidak berani. Kalaupun terpaksa tersentuh air sungai , kembali dibasuh lagi di sumur sumur kecil di pinggir sungai supaya kakinya tidak gatal.

Duduk ditepi sungai, sekarang tidak lagi memberi ketentraman, tapi justru menorehkan keprihatinan melihat ibu ibu bermandikan keringat menenteng beratnya ember dan jerigen berisi air untuk mengisi persediaan air bersih di rumah. Biasanya hembusan angin sepoi sepoi terasa sejuk di kulit,sekarang angin kemarau terasa panas seperti angin gurun.

Saya berharap keprihatinan yang dirasakan oleh saya dirasakan juga oleh semua, sehingga tidak mengatas namakan uang, sehingga menumbangkan paru paru bumi yang sanggup memberikan kesegaran dan menjamin ketersediaan air di bukit bukit untuk kebahagiaan warga di sekitarnya. Tapi entahlah kesadaran warga sudah tumbuh atau belum, sebab masih kulihat truk truk para juragan kayu yang mengangkut batang batang kayu besar.Semoga semua segera berubah.

Teman terima kasih kunjungannya, semoga renungan ini, menjadi renungan kita semua, dan bermanfaat, Amiin

 

Iklan

Tentang setyo adhi

saya hanyalah pria introvert yang sedang belajar menjadi orang'baik'
Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke KEMARAU PANJANG, KEKERINGAN….

  1. Ping balik: Apalah Arti Sebuah Nama | kunangimoet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s