Maafkan Ibu…

ibu tuaHallo s0bat baru saja aku membaca satu artikel di www. iphinchow.com yang  judulnya  “kasih sayang seorang ibu” yang isinya bagaimana seorang anak yang selalu membalas ketulusan kasih sayang seorang ibu dengan sikap dan tindakan yang selalu menyakiti hati ibunya. Saya seperti membaca cerita hidupku sendiri. Aku berbuat seperti di cerita itu, membuat aku sedih dan nelangsa.

Kalau kita menjadi seorang ibu yang mendapat balasan yang selalu menyakitkan itu mungkin kita akan menyesal telah melahirkan dan memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Tetapi  hal itu tidak ibu lakukan, beliau tetap setia dengan ketulusan kasih sayangnya melihat dan mendoakan setiap langkahku dalam  tahajjudnya. Tiada bosan memaafkan kekurangajaranku. Tetap mengalah kalau nasihat nasihatnya kuprotes dengan ketus.

Hampir semua kebaikan ibu kutanggapi dengan komentar komentar yang isinya berupa cerminan kebusukan hatiku sebagai seorang anak yang durhaka. Mata ini yang dulu selalu diusapnya ketika menangis kini menjadi mata yang selalu menatap ibu dengan tatapan yang penuh selidik dan kebencian. Mulut ini yang selalu diajari bicara dengan telaten kini menjadi mulut yang selalu menghardik kalau ibu bertanya tentang diriku.

Dengan kasihnya ibu memberikan air susunya, kini setelah dewasa menjadi lelaki yang mengawasi ibu ketika di meja makan, tak rela ibu mengambil  makanan banyak banyak takut anak dan istri kehabisan makanan, sehingga kadang ibu urung mengambil makanan yang disukai dengan seleranya karena takut melihat tatapan sinis yang selalu menyorot dari mataku.

Membaca artikel itu membuat aku menyesal dan ada  terselip tanya yang tak juga terjawab,”kapan aku bisa membalas kasih sayangnya?”, hmm… sebuah pertanyaan bodoh yang tak mungkin bisa terjawab. Bagaimana mungkin bisa membalas kasih sayang ibu bila kasih sayang yang terselip di hatiku hanya sependek galah sedang kasih sayang ibu sepanjang jalan tak berujung. Bagaimana mungkin membalas kasih sayang ibu, sedangkan mengucapkan,” Aku sayang ibu” saja malu, padahal ibu dulu begitu bangganya memamerkan aku sebagai anak lelakinya pada semua orang.

Di usiaku yang tak lagi muda ini masih saja malu memeluk dan mencium kening ibu, bagaimana mungkin anak anakku kelak mencintaiku juga, kalau akupun belum bisa sepenuhnya menunjukan bakti dan kasih sayangku pada ibu.

Maafkan Ibu…

Terima kasih sobat atas kunjungannya. Bukan artikel hebat yang sobat temui di sini, hanya renungan lelaki rapuh yang belum mampu membahagiakan ibunya

Sumber gambar : Beritaterkini.com

Iklan

Tentang setyo adhi

saya hanyalah pria introvert yang sedang belajar menjadi orang'baik'
Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s